Jumat, 15 Juli 2011

Menanam Cabe Merah di Lahan Kering

Cabe atau lombok (Capsicum annum) termasuk suku Selanaceae dan merupakan tanaman
yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabe banyak
mengandung vitamin A dan C serta mengandung minyak atsiri, yang rasanya pedas dan
memberikan kehangatan panas bila kita gunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur).
Kita sering melihat para ibu rumah tangga yang menanam cabe sebagai selingan yang
menguntungkan. Hasil buahnya bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa harus
membelinya di pasar.
Syarat Tumbuh
Tanaman cabe, cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak
tergenang air ; pH tanah yang ideal sekitar 5 – 6. Waktu tanam yang baik untuk lahan kering
adalah pada akhir musim hujan (Maret – April). Untuk memperoleh harga cabe yang tinggi,
bisa juga dilakukan pada bulan Oktober dan panen pada bulan Desember, walaupun ada
resiko kegagalan. Usahakan dibuat saluran drainase yang baik.
Tanaman ini diperbanyak melalui biji, yang ditanam dari tanaman yang sehat serta bebas
dari hama dan penyakit . Buah cabe yang telah kita seleksi untuk bibit dijemur hingga kering.
Kalau panasnya cukup dalam lima hari telah kering kemudian baru kita ambil bijinya: Untuk
areal satu hektar dibutuhkan sekitar 2-3 kg buah cabe (300-500 gr biji).
Persemaian
Tanah persemaian digemburkan dan dibikin bedengan dengan lebar 125 cm panjang
menurut ukuran tanah dan diberi pupuk kandang dan diberi TSP I Kg per meter bujur
sangkar 2 (dua) hari sebelum benih ditaburkan. Setelah itu ditutup dengan tanah atau sekam
untuk menghindari hujan dan angin. Benih cabe dapat dipindahkan setelah berumur 1 (satu)
bulan.
Pengolahan Tanah
Sambil menunggu bibit yang akan dipindahkan, tanah disiapkan dengan pengolahan yang
baik, bersamaan dengan itu diperam pupuk . kandang yang dicampur dengan TSP dan Urea
selama 20 hari (1 karung pupuk kandang + 1 Kg TSP + 1 \4 Kg Urea). Satu hektar
membutuhkan pupuk kandang 15 ton. Seminggu sebelum tanam, pupuk kandang
dimasukkan kedalam lubang tanam kurang lebih 1\5 Kg per lubang dengan jarak tanam 50 x
60 Cm. Umur bibit 1-1,5 bulan. Bila tersedia Biofert, berikan soil conditioner (penyubur
tanah) ini dengan dosis 30 Kg per hektar. Biofert membuat pemupukan lebih efisien dan
meningkatkan mutu buah cabe.
Pemeliharaan
Setelah tanaman berumur 15 – 20 hari tanam, dilakukan pemupukan pertama. Caranya
dengan mencampur Za 400 Kg, TSP 200 Kg dan KCL 50 Kg per hektar; caranya diberikan
10 gram per lubang. Pada umur 35 – 40 hari setelah tanam dipupuk lag] dengan 350 Kg Za
dan 50 Kg KC1, diberikan 15 gram per lubang.
Pemupukan selanjutnya pada umur 60 hari setelah tanam dengan memberikan Za 400 Kg
dan KCl 50 Kg diberikan 20 gram per lubang tanam. Pemupukan tetap diulangi lagi setiap 20
hari sekali setelah tanaman cabe panen 4 – 5 kali, dengan dosis seperti di atas. Untuk
meningkatkan produksi dari tanaman cabe perlu diberikan PPC seperti (Bayfolan, Super
Florosing, Gandasil D\B Grenzit, dll) dimulai pada hari ke-4, 8 dan 12 setelah tanam
kemudian satu kali seminggu.
ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) diberikan setelah tanaman berumur 15 hari, dan diberikan
setiap 20 hari sekali. ZPT yang digunakan adalah Dekamon, Darmasri, Sitosim, Atonik dan
lain-lain dengan ukuran satu sendok teh dalam 20 liter air.
Berikan mulsa jika memasuki musim kering. Mulsa mencegah penguapan daun dan tanah
serta membuat tanah lembab dan gembur.
Hama dan Penyakit
Ada musim agar penyakitnya tidak menular.
Keberhasilan kebun cabe sangat diperlukan. Kebun yang kotor akan merangsang
berjangkitnya penyakit keriting. Oleh karena itu, tanamlah bibit-bibit yang sehat. Gunakanlah
pupuk yang sesuai jenis dan dosisnya, karena pemupukan yang tepat akan berpengaruh
kepada pertumbuhan tanaman cabe yang akibatnya akan menambah daya tahan terhadap
serangan hama dan penyakit.
Pemetikan Hasil
Buah pertama telah kemarau tanaman cabe sering diserang oleh hama lalat buah (Docus
dorsalis) yang bisa merusak buah cabe, kutu daun (Myzus persiace, Tripa spp. dan Aphis
spp.) dapat di berantas dengan pestisida Orthene 75 Sp, Hosianon 40 Ec, dan Curacron
yang disemprotkan setup seminggu.
Pada muslin penghujan, tanaman cabe banyak diserang, penyakit seperti Antraknose atau
Krapak (Colectroticum capsici) dan cendawan yang menyebabkan bercak daun (Phytophtora
capsici) serta penyakit layu (Pseudomonas solanaceanum). Penyakit ini dapat dicegah dan
diberantas dengan fungisida seperti Dhitane 45 dan fungisida lainnya.
Penyakit virus yang banyak menyerang pada tanaman cabe yang mengakibatkan daun
menjadi keriting berwarna kekuning-kuningan. Dari itu lebih baik tanaman yang terserang
penyakit itu dibongkar dan dibakar dapat dipetik pada umur 80 – 85 hari setelah tanam.
Tanaman yang baik dapat dipetik 20 – 25 kali petik setiap 4 hari sekali. dengan produksi 3 – 4
ton per hektar ( 1,5 – 2 ons per rumpun tanaman).
Sumber : Menuju Pertanian Tangguh, Surat Kabar Sinar Tani, 1996. dalam: komunitaskami.com

Rabu, 13 Juli 2011

SIAP TANAM STEK PUCUK JATI PLUS PERHUTANI

Tanaman jati dengan sistim stek pucuk diharapkan bisa membawa angin segar bagi Perhutani, harapan tersebut akan terlihat nyata jika perlakuan stek pucuk sesuai dengan aturan yang ada dalam koridor panca usaha penanaman .
Pertumbuhan stek pucuk tersebut tidak serta merta jadi janggleng jati yang bongsor dan lurus, namun pertumbuhan tersebut tentunya diawali dari proses pembuatan stek pucuk yang selama ini jadi unggulan Perhutani Jati merupakan salah satu jenis komoditi perdagangan yang mempunyai nilai jual yang cukup tinggi ,sehingga permintaan akan kayu jati tersebut dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang cukup tinggi seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Secara umum daur (umur) jati yang lama hal ini kadang yang menjadi kendala dalam budidaya tanaman jati satu sisi permintaan akan kayu jati yang tinggi , disisi lain umur tanaman tersebut yang relatif lama, sehingga menjadi masalah tersendiri terhadap pemenuhan kebutuhan akan kayu jati. Menyikapi hal tersebut Perhutani saat ini telah berhasil mengembangkan varian baru tanaman jati melalui pengembang biakan secara vegetatif yang dikenal dengan Jati Plus Perhutani dengan tujuan utama yaitu menciptakan klon baru yang mampu menghasilkan produktivitas serta kualitas tegakan yang optimal, dari varian ini diharapkan bisa menyibak tuntutan ekonomi Perusahaan yaitu memperoleh laba yang tinggi dengan waktu penanaman yang relatif pendek (+20 tahun ), dengan daur pendek tersebut tentunya diharapkan bisa memenuhi kebutuhan keuangan bagi perusahaan, dan disisi lain kelestarian hutan tetap bisa terjaga.
Dengan adanya instruksi penanaman pola silvikultur intensif oleh Pemerintah jauh hari sebelum program tersebut diluncurkan, Perhutani telah melakukan inovasi dibidang pemuliaan pohon tersebut yang dikenal dengan naman JPP ( Jati Plus Perhutani ) yang dikembangkan melalui dua cara yaitu pembiakan secara generatif melalui penanaman dari biji, maupun vegetatif dengan cara stek pucuk dan kultur jaringan, pembiakan vegetatif diminati karena sifat genetik yang dihasilkan dari pohon induknya tidak akan melenceng terlalu jauh. Pengelolaan hutan tanaman jati dengan penerapan silvikultur intensif akan berhasil apabila dipenuhi beberapa syarat yang dikenal dengan panca usaha penanaman yang terdiri dari Penyediaan Bibit Unggul, bibit unggul ini yang digunakan adalah hasil dari seleksi dengan Kriteria bibit baik,tinggi minimal 20 cm, batang lurus, leher akarnya sudah meng –kayu , tidak muntir, sehat serta media tanahnya sudah kompak, Perhitungan untuk bibit JPP ini sebanyak 970 plances per hektarnya dan ini sudah diperhitungkan dengan sulaman sebanyak 10 % untuk tahun tanam pertama.Selain itu perlakuan lapangan yang perlu diperhatikan adalah apabila bibit dipesemaian apabila dijumpai akar yang sudah menembus kantong plastik maka dilakukan pemotongan saat masih dipesemaian, minimal 1 bulan sebelum dilakukan penanaman dikawasan hutan. Hal lain yang masih terkait dengan panca usaha penanaman adalah Persiapan lapangan, persiapan lapangan tersebut meliputi penentuan batas tanaman, pembersihan lapangan, pengolahan tanah (gebrus), pembuatan parit pembuatan jalan pemeriksaan untuk melakukan pengawasan, pemasangan acir , pembuatn lubang tanam dengan ukuran 40cmX40Cm X 30 Cm serta pemupukan yang disusuaikan dengan dosis yang berlaku untuk tanaman silin, persiapan ini dilakukan jauh hari secara matang sebelum tanaman JPP ditanam dilapangan. Perlakuan selanjutnya adalah Pemeliharaan tanaman, tanaman jati akan tumbuh baik apabila dilakukan pemeliharaan seperti halnya bididaya tanaman lain, pemeliharaan ini dilakukan mulai dari awal pada saat jati berumur 0 s/d 5 tahun merupakan masa pertumbuhan awal yang harus mendapatkan perhatian secara serius, pemeliharaan ini bertujuan untuk menambah nutrisi yang diperlukan oleh tanaman melalui pendangiran dan pemupukan serta membebaskan tanaman jati dari gulma yang mengganggu tanaman pokok dengan cara dilakukan pendangiran , wiwil dan sebaginya sehingga diperoleh batang pohon yang lurus, bahkan kalau ada tanaman yang mati karena faktor alam yang ekstrim perlu juga dilakukan penyulaman. Tahap berikutnya adalah Pemupukan, pemupukan ini dilakukan untuk mengantisipasi penurunan kualitas tanah didalam kawasan hutan akibat adanya erosi juga diakibatkan karena adanya biomassa tanaman tumpang sari yang tidak kembali kelahan pada plot tanaman yang ditumpang sari dengan kacang tanah misalnya, berdasarkan perhitungan sekali panen pada kahan tersebut menghasilkan rata – rata 4,7 – 6,6 ton per hektarnya, secara logika dengan adanya penanaman secara tumpang sari tersebut akan mengurangi sediaan unsur hara didalam hutan, apalagi jika penanaman tumpangsari tersebut dilakukan sejak mulai tanaman diteres selama kurang lebih 3 tahun , bisa dikalkulasi berapa unsur hara yang telah terserap akibat tanaman tumpang sari tersebut yang tentunya juga akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati muda yang baru ditanam, pemupukan sesuai dengan Petunjuk Teknis pembangunan dan Pemeliharaan Perhutanan Klon JPP dilakukan secara bertahap, tahap pertama dilakukan setelah penanaman selesai semua dengan menggunakan urea 50 gram / pohon, pemupukan ini dilakukan satu bulan setelah bibit ditanam dimana sebelum ditaburkan pupuk dilakukan pendangiran piringan dengan diameter 1 meter dengan tujuan untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah.pemberian pupuk dilakukan dengan jarak 20 – 25 Cm dari tanaman pokok dengan kedalaman 10 cm, sedangkan penaburan pupuk ditempatkan pada sebelah timur dan barat tanaman pokok lalu lubang tempat pupuk tersebut ditutup kembali dengan tujuan agar pupuk cepat terserap oleh akar dan mengurangi hilangnya pupuk akibat curah hujan yang ada .Pemupukan tahap kedua dilakukan pada tahun kedua sampai tahun kelima sebanyak 2 kali dalam satu tahun yaitu pada bulan November – Desember serta bulan Februari – maret dengan dosis Urea 100 gram atau dengan pupuk NPK sebanyak 150 gram perpohonnya. Dengan perlakuan sama dengan pemupukan pertama
Tahun Dosis pupuk Waktu Pemberian Keterangan
1 Urea 50 Gram Februari Satu bulan setelah tanam
Urea 50 Gram November
2 Urea 100 Gram Februari
Urea 100 Gram November
3 Urea 100 Gram Februari
Urea 100 Gram November
4 Urea 100 Gram Februari
Urea 100 Gram November
5 Urea 100 Gram Februari
Urea 100 Gram November

Perlindungan Tamanan, Perlindungan tanaman muda untuk tanaman jati mutlak dilakukan , hal ini untuk menghindari adanya penggembalaan liar, pencurian, perambahan, perempesan daun, kebakaran tanaman muda , perencekan serta serangan hama penyakit. Upaya yang dilakukan perusahaan untuk melakukan perlindungan dari berbagai hal diatas adalah dengan cara membuat pagar tanaman dari jenis tanaman berduri secang (Caesalpinia sappan L) serta tanaman tepi mahoni (Swietenia mahagoni) sebagai sekat bakar , tanaman sela Kemlanding (Luecaena glauca) dan tamanan Pengisi Kesambi (Schleichera oleosa ). Sedangkan penyakit yang timbul pada lokasi tanaman muda biasanya adalah mati pucuk, kematian tanaman akibat mati pucuk ini umumnya terjadi pada kondisi tanah yang mengalami drainase jelek, solum tanahnya tipis, unsur hara sedikit serta mengalami pemadatan top soil akibat penggembalaan liar, mati pucuk juga bisa diakibatkan adanya serangan hama penggerek pucuk (ulat) tanaman jati yang menyerang pada bagian batang (25cm) dari pucuk pohondengan cara membuat lubang yang kemudian menyerang empulur sehingga mengakibatkan tanaman layu dan mati. Serangan ulat penggerek ini biasanya pada bulan Maret – Mei pada saat tanaman jati berumur 1 – 2 tahun. Perlakuan pada pohon jati yang mati akibat penyakit layu tesebut adalah dengan cara dicabut lalu disulam dengan klon yang sama

Sumber :humaskphrandublatung.blogspot.com